Sabtu, 21 April 2012

Saya Pernah Menjadi Male Waiters (Bagian I)

Male Waiters
Saat saya menulis postingan ini, saya awalnya ragu untuk menjadikan Male Waiters sebagai judul dari apa yang sedang saya tulis. Karena, saat mencari sumber gambar yang mengarah untuk kata-kata Male Waiters di mesin pencarian Google, yang muncul adalah gambar ini. Haha, pekerjaan saya bukan seperti gambar disamping yang saya maksud.

Nah, ini pengalaman yang saya alami beberapa saat lalu yang saya rasakan sangat berbeda dan begitu berharga. Mengapa tidak? Karena, pekerjaan yang pernah saya coba ini saya rasa begitu berat dan penuh tantangan, dan ini merupakan pertama kalinya saya bekerja seperti ini.

Rabu, 4 April 2012
Hari ini adalah hari pertama saya bekerja di sebuah usaha rumah makan, atau lebih tepatnya 'resto' yang diberi nama
Gallery 51₁, berada di Jalan Tan Malaka, Napa, Payakumbuh. Dan ini adalah hari terberat saya bekerja di resto ini. Bisa dibayangkan, saya harus bekerja ekstra hati-hati, karena ini adalah hari pertama saya bekerja. Lalu, dihari ini sang resto ternyata kedatangan tamu sekitar 80 orang ibuk-ibuk Bhayangkara... huft, mati aku... hari pertama kerja, ga tau apa-apa, langsung ditimpa perintah ini, itu, kesana, kesitu, dimana, disitu, ana, ani, dan berbagai perintah yang bikin saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya coba ke bagian dapur, semua koki, dan waiters/waitress pada bolak balik ngantar "orderan" (istilah yang digunakan untuk pesanan yang telah diajukan konsumen) di atas tray, yang mereka sangat terampil dalam hal ini. Saya, coba ambil salah satu menu yang bisa diantar ke konsumen, dan kembali pusing... karena saya tidak tau harus ngantar ke meja sekian yang saya tidak tau meja sekian itu posisinya dimana. Saya coba tanya ke salah satu kokinya, mereka cuma bilang, "kok nanya ke saya? kan ini orderan kalian, yang tau mejanya ya kalian" sembari memasak. Aduh, saya melangkah beberapa langkah, dan bertanya kesalah satu waiters yang saya jumpai di perjalanan saya menuju entah kemana, "kawan, ini mau diantar ke meja #1, meja #1nya dimana ya? hehe" saya bingung. Dia menjawab dengan senyuman yang seakan memaklumi saya sebagai pekerja baru di sana. Dan jalan saya lumayan kencang, dan makanan yang saya bawa itu, tumpah-tumpah (pindang iga ala cafe).

Dan waiters yang saya maksudkan di postingan ini, adalah seperti gambar di samping. Tugasnya, ya saat costumer datang, kita wajib senyum ala iklan pasta gigi, dilanjutkan dengan kalimat, "Silahkan Bapak, sudah booking tempat, atau mau duduk dimana bapak?" Seterusnya, saya harus mengantar Air Minum Mineral Kemasan Gelas ke tempat dimana si costumer tadi duduk. Dilanjutkan dengan pertanyaan, "Mau pesan sekarang pak?" sambil memberikan buku menu yang tebalnya tak seberapa.Kalo mereka langsung pesan, saya tinggal catat apa saja yang mereka ingin makan atau minum. Namun, jika mereka tidak ingin pesan sekarang, dengan maksud menunggu teman, pacar, maupun selingkuhannya, akan menyuruh saya kembali lagi beberapa saat.

Kita kembali ke cerita dimana hari pertama saya bekerja. 80 ibuk-ibuk Bhayangkara yang sudah booking tempat itu, sangat repot untuk dilayani oleh saya yang masih newbie. Saya memang tidak sendiri, ada 2 waitress, dan 2 orang lagi waiters. 4 orang itu sangat sibuk dengan mengantar ini, mencatat itu, mengangkat kesana, dan saya hanya berdiri saja bagaikan tak tau apa yang akan terjadi jika bos pemilik resto ini melihat apa yang tengah saya lakukan. Saya pikir, saya mesti harus belajar dulu, baru dikasih seperti ini. Tapi, mengapa di hari pertama saya kerja, malah saya ga tau ngapain, karena saya memang tak tau apa-apa di resto ini. Dan, yang paling lucunya... saya harus ambil lagi makanan yang udah saya taruh, karena salah meja. (untung yang ada dimeja itu, ga langsung hajar) hehe.

(to be continued)

Pengikut